Thursday, June 7, 2012

TIDAK ADA PILIHAN


Tidak ada pilihan

Ada yang tidak biasa, dan itu menyesak masuk jauh ke dalam hati.

Jika selama ini apa yang hadir hanya singgah sebentar di teras hati, sekedar melihat-lihat ke dalam, maka kali ini ia masuk tanpa permisi, masuk tanpa sapa.

Ketika kebiasaan berbicara tentang dunia luar melalui ukiran kata, sudah menjadi terapi tersendiri, maka kali ini pemaksaan itu terjadi sangat nyata, untuk menguntai serumpun kata, membicarakan apa yang terjadi sangat dekat, sangat dekat, mungkin tidak ada jarak, karena darah yang serupa, juga mengalir dalam darahku.

Tidak mudah, bahkan teramat sulit, untuk membicarakan rasa sakit yang sudah begitu lekat, berbaur seiring berjalannya waktu. Di sana, di sana lah tempat ku tumbuh kembang dengan senang menggelora. Dalam sekejap, akulturasi budaya, membuat ceria itu jadi hampa, menghadirkan fatamorgana dalam kerdipan mata.

Antara keluarga dan rumah tangga, apa bedanya?
Tapi nyatanya itu berbeda, di tanah ku, perbedaan itu sudah menjadi tradisi yang lebih sakral dari sebuah perjanjian bermatrai.

Antara keluarga dan rumah tangga, itu membuatku kini gila!
Untungnya aku belum pernah dan tidak akan mau terjebak di tengah tengah perbedaan yang memaksa untuk menusuk diri sendiri, ketika salah satunya terluka. Tapi malangnya, aku ikut tersakiti, karena itu harus dihadapi oleh orang yang darahnya mengalir darah serupa denganku.

Jika aku gila, mungkin dia tidak lagi tahu mesti berkata apa.
Jika aku gila, mungkin tidak ada lagi kata yang mewakili sakitnya.
Jika aku gila, mungkin tidak ada lagi kegilaan yang melebihi dirinya.
Jika aku gila, mungkin tidak ada lagi harapan untuk waras baginya.

Dan sayangnya, dia, aku, atau siapapun itu, tidak sedikit pun bisa berjanjak dari belitannya.

Sayangnya, pilihan itu tidak ada....

Fadhli
Jakarta, April 2012

No comments:

Post a Comment