Tidak ada pilihan
Ada
yang tidak biasa, dan itu menyesak masuk jauh ke dalam hati.
Jika
selama ini apa yang hadir hanya singgah sebentar di teras hati, sekedar
melihat-lihat ke dalam, maka kali ini ia masuk tanpa permisi, masuk tanpa sapa.
Ketika
kebiasaan berbicara tentang dunia luar melalui ukiran kata, sudah menjadi
terapi tersendiri, maka kali ini pemaksaan itu terjadi sangat nyata, untuk
menguntai serumpun kata, membicarakan apa yang terjadi sangat dekat, sangat
dekat, mungkin tidak ada jarak, karena darah yang serupa, juga mengalir dalam
darahku.
Tidak
mudah, bahkan teramat sulit, untuk membicarakan rasa sakit yang sudah begitu
lekat, berbaur seiring berjalannya waktu. Di sana, di sana lah tempat ku tumbuh
kembang dengan senang menggelora. Dalam sekejap, akulturasi budaya, membuat
ceria itu jadi hampa, menghadirkan fatamorgana dalam kerdipan mata.
Antara
keluarga dan rumah tangga, apa bedanya?
Tapi
nyatanya itu berbeda, di tanah ku, perbedaan itu sudah menjadi tradisi yang
lebih sakral dari sebuah perjanjian bermatrai.
Antara
keluarga dan rumah tangga, itu membuatku kini gila!
Untungnya
aku belum pernah dan tidak akan mau terjebak di tengah tengah perbedaan yang
memaksa untuk menusuk diri sendiri, ketika salah satunya terluka. Tapi
malangnya, aku ikut tersakiti, karena itu harus dihadapi oleh orang yang darahnya
mengalir darah serupa denganku.
Jika
aku gila, mungkin dia tidak lagi tahu mesti berkata apa.
Jika
aku gila, mungkin tidak ada lagi kata yang mewakili sakitnya.
Jika
aku gila, mungkin tidak ada lagi kegilaan yang melebihi dirinya.
Jika
aku gila, mungkin tidak ada lagi harapan untuk waras baginya.
Dan
sayangnya, dia, aku, atau siapapun itu, tidak sedikit pun bisa berjanjak dari
belitannya.
Sayangnya,
pilihan itu tidak ada....
Fadhli
Jakarta,
April 2012
No comments:
Post a Comment