Trompet perang
Malam bertambah kelam,
angin bertiup malu. Gerayangan nyamuk semakin menjadi-jadi, menyanyikan
dendang, meniupkan trompet perang, entah mereka tertidur pulas atau tergaja
dengan mata terbelalak. Mencoba mencari-cari celah untuk tempat berdiam diri
dan menghisap darah, secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan. Tak takut
menerjang bahaya dihempaskan telapak tangan raksasa, yang sewaktu-waktu bisa
saja menjepit mereka, dengan sadar atau tidak. Seakan tak takut atau malah tak
tahu apa itu mati. Mereka hanya mencoba bertahan hidup dengan cara mereka pula.
Perisai-perisai
dipersiapkan untuk menangkal terjangan nyamuk-nyamuk, namun mereka masih tetap
saja bergerayangan. Tak perlu tahu apa-apa, atau dibuat untuk tidak tahu
apa-apa. Yang perlu mereka tahu, mereka diciptakan begitu dan bertahan hidup
dengan cara itu. Mereka juga tak mengiraukan celotehan kekesalan, carut marut
dari mulut-mulut pesakitan. Tak bisa kali ini, mungkin sebentar lagi, esok
hari, atau entah kapan, mereka akan tetap seperti itu.
Fadhli
Jakarta,
juli 2011
No comments:
Post a Comment