Thursday, June 7, 2012

TEROMPET PERANG


Trompet perang
Malam bertambah kelam, angin bertiup malu. Gerayangan nyamuk semakin menjadi-jadi, menyanyikan dendang, meniupkan trompet perang, entah mereka tertidur pulas atau tergaja dengan mata terbelalak. Mencoba mencari-cari celah untuk tempat berdiam diri dan menghisap darah, secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan. Tak takut menerjang bahaya dihempaskan telapak tangan raksasa, yang sewaktu-waktu bisa saja menjepit mereka, dengan sadar atau tidak. Seakan tak takut atau malah tak tahu apa itu mati. Mereka hanya mencoba bertahan hidup dengan cara mereka pula.

Perisai-perisai dipersiapkan untuk menangkal terjangan nyamuk-nyamuk, namun mereka masih tetap saja bergerayangan. Tak perlu tahu apa-apa, atau dibuat untuk tidak tahu apa-apa. Yang perlu mereka tahu, mereka diciptakan begitu dan bertahan hidup dengan cara itu. Mereka juga tak mengiraukan celotehan kekesalan, carut marut dari mulut-mulut pesakitan. Tak bisa kali ini, mungkin sebentar lagi, esok hari, atau entah kapan, mereka akan tetap seperti itu.  

Fadhli
Jakarta, juli 2011

No comments:

Post a Comment