TERASING
Kemarin,
sekarang, hari-hari yang akan datang. Aku masih berada di sini, di tempat yang
sama. Hari-hari berlalu dengan keadaan yang masih seperti itu. Matahari terbit,
menjulang naik, berada tepat di atas ubun-ubun setiap manusia, sampai terbenam
lagi dan menerangi belahan dunia lainnya. Ingin aku mencampakkan keadaan ini
jauh-jauh dari kehidupanku, tapi seakan penderitaan batin ini enggan untuk
melangkah, masih saja tetap berdiam diri dan selalu mengikuti bayanganku.
Mengikuti, mengikuti, lalu menggantikan bayanganku dengan sosok yang tak aku
ketahui, sampai aku tak sanggup untuk menatap bayangku sendiri.
Setiap
hari, aku selalu menjalani rutinitas ini. Tapi masih saja aku tak bisa merasa
akrab dan bersaudara dengan keadaan ini. Aku tak ingin menanyakan siapa yang
salah dan siapa yang benar. Aku sangat membenci keadaan ini, tapi sisi-sisi
lain aku sangat membutuhkan keadaan yang seperti ini. Semakin terkungkung
sampai akhirnya aku tak bisa pergi, tapi juga tak bisa berdiam diri dan
menikmati. Tak tahu harus memegang sisi mana, dua sisi itu seakan telah di
hangatkan oleh segumpalan api terus menerus, membentuk sisi-sisi yang pipih,
tajam, dua sisi itu menjelma menjadi racun yang dikelilingi kawat berduri.
Fadhli
Jakarta, November 2011
No comments:
Post a Comment