Thursday, June 7, 2012

KASTA METROPOLITAN


KASTA METROPOLITAN
Letupan petir membelah rintihan jalanan yang membuat nada-nada terbakar. Butiran-butiran air hujanpun ikut larut dalam menistakan bekas abu-abu pembakaran dan debu jalanan, butiran lembut dan menyejukkan, kemudian membasahi lalu menghanyutkan setiap titik abu dan debu. Menjadi genangan yang menyerupai kubangan menyenangkan bagi kerbau-kerabu peranakan. Kerbau-kerbau itu terus saja mengunyah dalam kubangan tak henti-hentinya, tak peduli, asalkan butiran air bercampur abu dan debu bisa terus mengalir ke kubangan mereka.
Butiran air yang menyetubuhi tembok-tembok bertingkat menjadi nada-nada tersendiri. Tak bercampur abu, tak bercampur debu, tembok-tembok yang menjulang tinggi itu mendapatkan kecupan manis butiran air yang tidak ternoda, mencicipi, menjadi pemutus perawan, kemudian mencampakkan sebelum akhirnya bekas-bekas butiran air itu membasahi dinding-dinding yang rapuh dan goyah. Butiran air yang digerayangi segerombolan  tembok-tembok raksasa, menghempaskan kemurkaannya kepada dinding-dinding yang tak kokoh.

Fadhli
jakarta, november 2011

No comments:

Post a Comment