KASTA
METROPOLITAN
Letupan
petir membelah rintihan jalanan yang membuat nada-nada terbakar.
Butiran-butiran air hujanpun ikut larut dalam menistakan bekas abu-abu
pembakaran dan debu jalanan, butiran lembut dan menyejukkan, kemudian membasahi
lalu menghanyutkan setiap titik abu dan debu. Menjadi genangan yang menyerupai
kubangan menyenangkan bagi kerbau-kerabu peranakan. Kerbau-kerbau itu terus
saja mengunyah dalam kubangan tak henti-hentinya, tak peduli, asalkan butiran air
bercampur abu dan debu bisa terus mengalir ke kubangan mereka.
Butiran
air yang menyetubuhi tembok-tembok bertingkat menjadi nada-nada tersendiri. Tak
bercampur abu, tak bercampur debu, tembok-tembok yang menjulang tinggi itu
mendapatkan kecupan manis butiran air yang tidak ternoda, mencicipi, menjadi pemutus perawan,
kemudian mencampakkan sebelum akhirnya bekas-bekas butiran air itu membasahi
dinding-dinding yang rapuh dan goyah. Butiran air yang digerayangi
segerombolan tembok-tembok raksasa,
menghempaskan kemurkaannya kepada
dinding-dinding yang tak kokoh.
Fadhli
jakarta, november 2011
No comments:
Post a Comment