“Aku Penulis”
Mereka tertawa, bercengkrama dalam
suara. Berucap apa pun yang terasa, tanpa takut, tanpa beban. Indah melihat
dia, teman sebaya, yang selalu berurai tawa. Mempunyai magnet, yang menarik
orang disekitarnya terseret bahagia. Itu lah Lara.
Tapi aku bukan Lara, aku Lana. Lana
yang tak banyak bicara, kadang tak mampu tertawa. Berbagi dalam kata, adalah
kesukaanku, atau aku terpaksa suka, entahlah.
Lara masih ceria, berbagi dalam
cerita, berucap dalam tawa. Hanyut dalam alunan suaranya, sudah menjadi
rutinitas, bagi siapa yang mendengarkannya. Sungguh mempesona.
Lewat jendela, aku Lana, masih melihat
indah senyum Lara. Tidak terbentang jarak yang jauh antara aku dengannya,
bahkan setiap lekuk indah tubuhnya, bisa kutelusuri dengan begitu nyata. Tapi,
ada satu kaca yang disebut jendela, membatasasi kami berdua. Bening,
memantulkan cahaya, tapi tak bisa ditembus rasa.
Seketika, Lara tertawa, sampai otot
lehernya berputar, dan aku temukan tatapannya, tertuju pada mataku. Itu lah
mulai cerita antara Lara dan Lana, dua anak manusia yang berbeda.
Dengan matanya, Lara menyapa. Dengan
bibirnya, Lara bercerita. Dengan hatinya, Lara menyentuh rasa. Apa boleh
dikata, kaca berupa jendela, masih berdiri di tempat yang sama.
Bergerak, kakiku melangkah pelan, menjauhi,
apa yang disebut jendela kaca, atau kaca jendela, ahhh, sama saja barangkali,
aku tak tau apa lagi itu namanya.
Senyap dalam hening, aku Lana, mulai
bercanda dengan kata. Mengukir sejuta makna, untukku, bukan untuk Lara atau
mereka. Asik dengan kesendirian, berbagi cerita lewat kata, menumpahkan segala
rasa.
Mati kata, aku kembali ke jendela
kaca, tapi ke mana Lara? Lara yang menjadi tempatku bermandikan suara. Lara
yang selalu mewakili tawaku. Lara yang menjadi mulutku untukku berbicara.
Kali ini, tidak cahaya yang
dipantulkan oleh jendela kaca, tempat aku biasa melihat Lara. Lara, bayangan
itu berupa wujud Lara. semakin mendekat. Aku rasakan jemari Lara mulai
menyentuh pundakku, tapi aku masih tak percaya. “Apakah itu benar-benar Lara?”
Pertanyaan itu semakin membati buta, memenuhi rongga dadaku.
“Apa yang kau lakukan di sini? Apakah
kau setiap hari berada di sini? Siapa kau sebenarnya?” Dengan bibirnya, Lara bertanya.
Dengan hatinya, Lara menyentuh rasa. Yang biasanya hanya aku temui di balik
jendela kaca, kini berada tepat di depan mata.
“AKUPENULIS” tidak berspasi, itu yang
seketika terbesit di benakku, terlukis melalui uap nafasku, dan tertulis di
jendela kacaku.
Hahahahahahahahahahahahahahahaha, Lara
tertawa. Tidak pernah kutemui wajahnya dengan tawa yang sedemikian rupa.
Apakah itu lucu bagi dia? Apakah itu
lucu bagi mereka?
Hahahahahahahahahahahahahahahaha, aku
ikut tertawa. Tidak pernah ketemui wajahku dengan tawa yang sedemikian rupa.
Tapi sayangnya, tawa Lara, atau tawaku
yang tertuang dalam rupa Lana, sungguh membuat luka menganga.
Fadhli
Jakarta, Juni 2012
No comments:
Post a Comment