Tuesday, October 30, 2012

Jejak Bintang #2


 Jejak Bintang #2

Melesat secepat kilat,
bergerak meninggalkan berkas cahaya.
Belum usai satu kerdipan mata,
Engkau hilang ditelan lagi jagad raya.
Dalam sekelebat sinar terang,
terlontar berjuta kata takjub.
Dalam serumpun asa,
terbesit berjuta doa.
Meninggalkan jejak yang tak kasat mata.
Kembalikan lagi makna tak terucap.
Begitu indah adanya,
karena Engkau lah bintang jatuh.
Fadhli
Jakarta, Juni 2012

Jejak Bintang #1


Jejak Bintang #1

Kau datang,
membawa yang hilang.
Kau datang,
kembali mengumpulkan kepingan.
Membawa lari kehampaan
Kembalikan lagi kehangatan
Ruang tak bertuan,
kini tak lagi sendiri.
Ruang tak berisi,
kini telah berpenghuni.
Meredupkan yang suram,
karena engkau lah cahaya terang.
Fadhli
Jakarta, Juni 2012

Thursday, June 7, 2012

TIDAK ADA PILIHAN


Tidak ada pilihan

Ada yang tidak biasa, dan itu menyesak masuk jauh ke dalam hati.

Jika selama ini apa yang hadir hanya singgah sebentar di teras hati, sekedar melihat-lihat ke dalam, maka kali ini ia masuk tanpa permisi, masuk tanpa sapa.

Ketika kebiasaan berbicara tentang dunia luar melalui ukiran kata, sudah menjadi terapi tersendiri, maka kali ini pemaksaan itu terjadi sangat nyata, untuk menguntai serumpun kata, membicarakan apa yang terjadi sangat dekat, sangat dekat, mungkin tidak ada jarak, karena darah yang serupa, juga mengalir dalam darahku.

Tidak mudah, bahkan teramat sulit, untuk membicarakan rasa sakit yang sudah begitu lekat, berbaur seiring berjalannya waktu. Di sana, di sana lah tempat ku tumbuh kembang dengan senang menggelora. Dalam sekejap, akulturasi budaya, membuat ceria itu jadi hampa, menghadirkan fatamorgana dalam kerdipan mata.

Antara keluarga dan rumah tangga, apa bedanya?
Tapi nyatanya itu berbeda, di tanah ku, perbedaan itu sudah menjadi tradisi yang lebih sakral dari sebuah perjanjian bermatrai.

Antara keluarga dan rumah tangga, itu membuatku kini gila!
Untungnya aku belum pernah dan tidak akan mau terjebak di tengah tengah perbedaan yang memaksa untuk menusuk diri sendiri, ketika salah satunya terluka. Tapi malangnya, aku ikut tersakiti, karena itu harus dihadapi oleh orang yang darahnya mengalir darah serupa denganku.

Jika aku gila, mungkin dia tidak lagi tahu mesti berkata apa.
Jika aku gila, mungkin tidak ada lagi kata yang mewakili sakitnya.
Jika aku gila, mungkin tidak ada lagi kegilaan yang melebihi dirinya.
Jika aku gila, mungkin tidak ada lagi harapan untuk waras baginya.

Dan sayangnya, dia, aku, atau siapapun itu, tidak sedikit pun bisa berjanjak dari belitannya.

Sayangnya, pilihan itu tidak ada....

Fadhli
Jakarta, April 2012

TEROMPET PERANG


Trompet perang
Malam bertambah kelam, angin bertiup malu. Gerayangan nyamuk semakin menjadi-jadi, menyanyikan dendang, meniupkan trompet perang, entah mereka tertidur pulas atau tergaja dengan mata terbelalak. Mencoba mencari-cari celah untuk tempat berdiam diri dan menghisap darah, secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan. Tak takut menerjang bahaya dihempaskan telapak tangan raksasa, yang sewaktu-waktu bisa saja menjepit mereka, dengan sadar atau tidak. Seakan tak takut atau malah tak tahu apa itu mati. Mereka hanya mencoba bertahan hidup dengan cara mereka pula.

Perisai-perisai dipersiapkan untuk menangkal terjangan nyamuk-nyamuk, namun mereka masih tetap saja bergerayangan. Tak perlu tahu apa-apa, atau dibuat untuk tidak tahu apa-apa. Yang perlu mereka tahu, mereka diciptakan begitu dan bertahan hidup dengan cara itu. Mereka juga tak mengiraukan celotehan kekesalan, carut marut dari mulut-mulut pesakitan. Tak bisa kali ini, mungkin sebentar lagi, esok hari, atau entah kapan, mereka akan tetap seperti itu.  

Fadhli
Jakarta, juli 2011

TERASING


TERASING

Kemarin, sekarang, hari-hari yang akan datang. Aku masih berada di sini, di tempat yang sama. Hari-hari berlalu dengan keadaan yang masih seperti itu. Matahari terbit, menjulang naik, berada tepat di atas ubun-ubun setiap manusia, sampai terbenam lagi dan menerangi belahan dunia lainnya. Ingin aku mencampakkan keadaan ini jauh-jauh dari kehidupanku, tapi seakan penderitaan batin ini enggan untuk melangkah, masih saja tetap berdiam diri dan selalu mengikuti bayanganku. Mengikuti, mengikuti, lalu menggantikan bayanganku dengan sosok yang tak aku ketahui, sampai aku tak sanggup untuk menatap bayangku sendiri.
Setiap hari, aku selalu menjalani rutinitas ini. Tapi masih saja aku tak bisa merasa akrab dan bersaudara dengan keadaan ini. Aku tak ingin menanyakan siapa yang salah dan siapa yang benar. Aku sangat membenci keadaan ini, tapi sisi-sisi lain aku sangat membutuhkan keadaan yang seperti ini. Semakin terkungkung sampai akhirnya aku tak bisa pergi, tapi juga tak bisa berdiam diri dan menikmati. Tak tahu harus memegang sisi mana, dua sisi itu seakan telah di hangatkan oleh segumpalan api terus menerus, membentuk sisi-sisi yang pipih, tajam, dua sisi itu menjelma menjadi racun yang dikelilingi kawat berduri.

Fadhli
Jakarta, November 2011

SEMUA BERBEDA


SEMUA BERBEDA

Semua tak sama
Tidak pernah sama
Bahkan dua insan kembar sekalipun
Pasti ada bedanya
Namun,
Kerap kali perbedaan dijadikan kambing hitam
Apakah itu yang disebut cinta?
Atau haruskah cinta itu bertaut di atas pondasi yang serupa?
Barangkali tidak!
Dan pastilah itu cinta
Jika perbedaan tidak lagi dipandang dengan tatapan sinis
Jika perbedaan tidak lagi memaksa kening berkerut
Jika perbedaan tidak lagi menjadi kambing hatim
Dan pastilah itu cinta
Jika perbedaan itu lebur jadi satu
Membentuk keindahan baru
Dan pastilah itu cinta
Jika perbedaan menjadi khasanah tak terhingga
Membentuk satu kesatuan yang baru

Fadhli
Jakarta, April 2012

SECARIK KERTAS


SECARIK KERTAS
Polos dan tak ternoda, itulah secarik kertas. Secarik kertas itu bisa saja kotor dan menjadi ternoda, saat tetesan tinta mulai menindih bagian teratas kertas itu, bahkan hingga tampak tembus di belakangnya. Namun noda-noda itu membentuk sejuta makna, yang tak terucap oleh mulut, tapi tertuang ke dalam secarik kertas. Luapan perasaan yang tak terungkap, menjadi sangat jelas ketika membentuk garis-garis bermakna yang dirangkai dan membentuk sebuah kata.
Tak akan lebih bijak jika otak dijadikan cawan tempat penampungan semua keluh kesah, haru duka, suka cita, sebab otak tak akan mampu menampung semua daya. Alangkah lebih baik jika noda-noda tinta yang tersisa di bagikan sedikit untuk mengisi kekosongan yang bersemai di secarik kertas. Noda-noda yang akan menjadi berjuta-juta makna.

Fadhli
Jakarta, november 2011