Thursday, June 7, 2012

SEMUA BERBEDA


SEMUA BERBEDA

Semua tak sama
Tidak pernah sama
Bahkan dua insan kembar sekalipun
Pasti ada bedanya
Namun,
Kerap kali perbedaan dijadikan kambing hitam
Apakah itu yang disebut cinta?
Atau haruskah cinta itu bertaut di atas pondasi yang serupa?
Barangkali tidak!
Dan pastilah itu cinta
Jika perbedaan tidak lagi dipandang dengan tatapan sinis
Jika perbedaan tidak lagi memaksa kening berkerut
Jika perbedaan tidak lagi menjadi kambing hatim
Dan pastilah itu cinta
Jika perbedaan itu lebur jadi satu
Membentuk keindahan baru
Dan pastilah itu cinta
Jika perbedaan menjadi khasanah tak terhingga
Membentuk satu kesatuan yang baru

Fadhli
Jakarta, April 2012

SECARIK KERTAS


SECARIK KERTAS
Polos dan tak ternoda, itulah secarik kertas. Secarik kertas itu bisa saja kotor dan menjadi ternoda, saat tetesan tinta mulai menindih bagian teratas kertas itu, bahkan hingga tampak tembus di belakangnya. Namun noda-noda itu membentuk sejuta makna, yang tak terucap oleh mulut, tapi tertuang ke dalam secarik kertas. Luapan perasaan yang tak terungkap, menjadi sangat jelas ketika membentuk garis-garis bermakna yang dirangkai dan membentuk sebuah kata.
Tak akan lebih bijak jika otak dijadikan cawan tempat penampungan semua keluh kesah, haru duka, suka cita, sebab otak tak akan mampu menampung semua daya. Alangkah lebih baik jika noda-noda tinta yang tersisa di bagikan sedikit untuk mengisi kekosongan yang bersemai di secarik kertas. Noda-noda yang akan menjadi berjuta-juta makna.

Fadhli
Jakarta, november 2011

O


“O”

Berbagi rasa, dalam suka dan duka
Berbagi cinta, dalam banyak cerita
Tertawa dengan ceria
Seperti dunia tak lagi berkuasa

Dipuja dengan banyak cara
Disanjung dengan beribu kata
Lepas dalam canda
Seperti raja nan penuh kuasa

Suatu ketika,
Disaat tawa tak lagi ceria
Disaat sang raja tak lagi dipuja
Disaat pujangga tak lagi memiliki kata
Disaat kata tak lagi bermakna

Di sanalah,
Kehampaan terlihat sangat nyata

Fadhli
Jakarta, Juni 2012

KASTA METROPOLITAN


KASTA METROPOLITAN
Letupan petir membelah rintihan jalanan yang membuat nada-nada terbakar. Butiran-butiran air hujanpun ikut larut dalam menistakan bekas abu-abu pembakaran dan debu jalanan, butiran lembut dan menyejukkan, kemudian membasahi lalu menghanyutkan setiap titik abu dan debu. Menjadi genangan yang menyerupai kubangan menyenangkan bagi kerbau-kerabu peranakan. Kerbau-kerbau itu terus saja mengunyah dalam kubangan tak henti-hentinya, tak peduli, asalkan butiran air bercampur abu dan debu bisa terus mengalir ke kubangan mereka.
Butiran air yang menyetubuhi tembok-tembok bertingkat menjadi nada-nada tersendiri. Tak bercampur abu, tak bercampur debu, tembok-tembok yang menjulang tinggi itu mendapatkan kecupan manis butiran air yang tidak ternoda, mencicipi, menjadi pemutus perawan, kemudian mencampakkan sebelum akhirnya bekas-bekas butiran air itu membasahi dinding-dinding yang rapuh dan goyah. Butiran air yang digerayangi segerombolan  tembok-tembok raksasa, menghempaskan kemurkaannya kepada dinding-dinding yang tak kokoh.

Fadhli
jakarta, november 2011

BURUNG TAK BERSAYAP


“Burung tak bersayap”

Ke luar dari cangkang telur,
Adalah impianku
Tempat itu,
Sangkar yang mengungkung
Berputar dalam lingkaran serupa,
Tanpa tahu dunia luar

Kini,
Tidak lagi hanya sekedar impian
Dan cankang itu telah pecah,
Membebaskanku
Untuk mulai belajar terbang

Bersinar terang,
Dia lah matahariku
Yang memberi kehangatan
Yang menerangi jalanku

Tapi,
Ada yang berbeda
Aku tak sama
Ada yang salah dengan anatomi tubuhku

Melihat mereka terbang,
Mengagumkan

Matahariku:
“Sabarlah, akan tiba masanya,
Engkau terbang seperti mereka”

Lama menanti,
Tapi saat itu tak kunjung tiba
Penat, lelah
Entah apa lagi namanya
Tak terpisahkan,
Bercampur jadi satu,
Membentuk rasa baru

Kini,
Tiba masanya
Tapi bukan untuk terbang
Melainkan untuk sadar,
Bahwa aku tidak bisa terbang

Kini,
Jadi lah aku,
Burung tak bersayap

Catatan dipagi buta,
Di sudut ruang kerja

Fadhli
Jakarta, Juni 2012